THE LAST EPISODE
The last episode
Hari ini, Kamis (28/6) perkuliahan fiqh munakahat tak seperti biasa. Suasana, ruang kelas, waktu, jelas berbeda dari sebelumnya. Sosok yang biasa berdiri di depan jajaran kursi mahasiswa bukanlah seorang bertubuh kurus, berkulit putih, dan berkacamata lensa plus, melainkan seorang yang bertubuh sedang, berkulit hitam manis, dan tak berkacamata. Dia adalah dosen pengganti dari Achm...ad
Baihaqi yang pernah mengajar kami di semester-semester sebelumnya.
In memorial
Pagi itu Kamis (10/5) aula kampus II Unwahas dipergunakan untuk Seminar “Optimalisasi Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau untuk Pembangunan Pertanian”. Otomatis tempat kuliah kami Pasca D yang juga merupakan satu kesatuan aula itu terpakai.
Jam perkuliahan sudah menunjukkan angka lebih pukul sembilan, sementara kami belum mendapatkan tempat. Wuh, bingung juga harus cari ruang kuliah, mondar-mandir dan memeriksa setiap ruangan yang kemungkinan kosong
. Sms kepada Baihaqi, Sang dosen pengajar fiqh munakahat belum dibalas. Waduh, tambah bingung juga, dimanakah beliau berada saat itu. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke tempat semula, barangkali beliau berada di sana. Alhamdulillah, di lantai II, KAMPUS II, akhirnya kami bertemu beliau. Kebetulan juga kami bertemu Mass Shihab, salah satu TU Fakultas yang menurut kabar ter-up date dia adalah adik kandung asli bukan imitasi dari Baihaqi. Syukur, dia mengetahui ruangan kosong yang bisa kami manfaatkan untuk proses perkuliahan.
Seperti bermain ular-ularan, saya dan seorang teman sebagai petugas polisi berjalan di depan Baihaqi yang diikuti beberapa mahasiswa lainnya di belakang beliau menuju ruangan lantai III, bangunan baru, kampus I. Uh, ruangan,....tampak kotor...debu diman-mana...dan tak ada lat pembersih apapun. Yang ada hanyalah tisyu bekas untuk membersihkan meja dosen, guru, dan kursi di depannya. Tak lama kemudian pelajaran pun dimulai.
Mungkin engkau masih kecil, Baihaqi’s Children! Tapi inilah materi perkuliahan yang disampaikan ayahmu, Kamis, (10/5). Semoga suatu saat Engkau membacanya, Dik!
1. Manfaat pernikahan, yang paling berkesan dari materi ini terletak pada poin 2a dari catatanku, “Manfaat pernikahan adalah menjaga keturunan, diantaranya dengan keberadaan si anak. Mengapa demikian? Dengan kehadiran sang anak, pasti ada harapan berkah doana ketika orang tua itu sudah meninggal dunia ‘(Mikul dhuwur [mampu mengangkat derajat orang tuanya], mendem jero)’
2. Cerita Kisah Ayah Imam Syafi’i, yang benar-benar menginginkan memiliki keturunan baik. Ia berjanji dalam hatinya mulaI REMAJA sampai akhir hayat tak akan sampai makan-makanan yang subkhat ataupun haram.Huh, kisah ini disampaikan oleh Baihaqi secara dramatis, benar-benar dramatis. Jika orang lain pada umumnya hanya menceritakan sekilas dalam 1 paragraf, maka beliau menceritakan kisah itu bisa sampai lebih 2 halaman. Tapi catatanku, terlalu ringkas, cukup 1 halaman lebih sedikit.
3. Kisah rizki yang sudah dijamin oleh Allah. Bagaiman kisah sang ayam, yang ketika ia mendapati santapan setelah makan, ia tidak pernah membawa makanan itu ke kantongnya untuk persediaan esok. Ini, seharusnya menjadi contoh untuk manusia, jangan mengeksploitasi semua yang telah disediakan. Bila esok kurang, maka cari lagi dan begitu seterusnya. Bukan, “Mumpong ana ayao diresikki sak resik-resikke”
4. Kisah Nabi Muhammad SAW, Ketika sang istri salah memberikannya minum, Nabi tetap mengatakan bahwa minuman nbuatan istrinya itu nikmat. Untuk membuktikan bahwa perkataan Nabi itu benar, maka beliau meminta sang Istri untu mencicipinya sendiri. Wuh, ternyata setelah mencicipi, sang istri malah kaget dengan perkataan suaminya, “Bahgaimana minuman yang keliru, teras tak enak, bisa dianggap Nabi nikmat?”. Inilah kisah Nabi yang sangat mulia, tidak cepat marah terhadap kesalahan Sang Istri. Ia mengatakan kebenaran secara halus dan bijak.
5. Sebuah doa, semoga Allah selalu memberkahi kita dalam keadaan apapun.
Perkuliahan selesai, mahasiswa antusias bahwa minggu depannya pasti bisa bertemu lagi. Oh, ternyata minggu itu, belum bisa masuk kuliah, terdengar kabar beliau sakit. Beberapa hari kemudian, kami mengunjungi beliau di R. S. Karyadi. Kondisinya lemah tak berdaya, tangannya memegang perut, dan wajahnya penuh harap. Perkuiahan hari Kamis, Perencanaan Pendidikan oleh Asro’ie Thohir terpaksa ditiadakan dengan penugasan karena ternyata Asro’ie Thohir yang merupakan pimpinman FAKULTAS ada acara dan tak sengaja bertemu kami dalam waktu bersaaan menjenguk Baihaqi. Kebetulan, akhirnya kami berdoa bersama dalam sebuah ruangan putih, beranjang besi.
Satu minggu kemudian, satu minggu kemudian, perkuliahan kosong. Minggu (24/5) saya mudik ke rumah, kota Pati dan tak kusangka sebuah pesan inbox pertama dari Aisyatul mUnawaroh terdapat kabar, bahwa Baihaqi telah terpanggil ke Rahmatullah. Dialah “Beliau” Achmad Baihaqi
Perkuliahan hari ini cukup menyenangkan dengan seorang pengajar baru materi Fiqh Munakahat. Di depan kelas memang ada seorang pengajar, namun, serasa perkuliahan pagi tadi seperti masih ada seorang lagi yang masih terngiang di benak mahasiswa berdiri di depan kelas, menerangkan dengan celotehan yang kadang membuat mahasiswa putra semakin terpingal-pingal mendapat penjelasan “ Beliau” sedangkan mahasiswi hanya diam, dan saya lah yang kadang sok yes...”melu-melu ngguyu”.
![]() |
| @nurse_jepara |


Komentar
Posting Komentar